15 hal yang mendatangkan kehancuran

بسم الله الرحمن الرحيم



Mari qt renungkan hadis dibawah ini, dan lihatlah keadaan bumi qt sekarang serta sikap orang-orang yang ada di dalamnya....



Dari Ali bin Abi Thalib Ra berkata, Rasulullah bersabda :

اذا فعلت امتي خمس عشرة خصلة حل بها البلاء إذا كان المغنم دولا و الأمانة مغنما و الزكة مغرما و الطاع الرجل زوجته و عو امه و بر صديقه و جفا أباه و ارتفعت الأصوات في المسجد و كان زعيم القوم ارذلهم و اكرم الرجل مخافة شره و شربت الخمر و لبس الحرير و اتخذت القينات و المعازف و لعن اخر هذه الامة اولها فليرتقبوا عند ذلك ريحا حمراء او خسفا او مسخا

Jika ummatku telah melanggar lima belas perbuatan, maka tibalah kehancuran atas mereka, yaitu :

1. jika tempat pengembala telah dijadikan sebagai negara/ tempat pemerintahan

2. jika barang titipan telah dijadikan barang rampasan

3. zakat dijadikan barang jaminan

4. orang lelaki patuh kepada istrinya

5. anak durhaka kepada ibunya

6. berlaku baik dengan kawan-kawannya (pergaulan)

7. anak benci dengan ayahnya

8. di masjid selalu terjadi perselisihan

9. yang menjadi pemimpin masyarakat termasuk orang yang tercela

10. sebagian orang dihormati karena ditakuti kejahatannya

11. minum-minuman khamar telah menjadi kebiasaan

12. banyak pria yang berpakaian sutera

13. banyak biduanita mendapat pesanan dan alat-alat musik banyak diperjualbelikan

14. ummat di akhir zaman banyak mencela ummat generasi sebelumnya

15. pada waktu itu tunggulah rihul ahmar yaitu: udara yang membawa panas terik matahari, atau kegelapan atau perubahan iklim yang luar biasa

(HR. At-tirmidzi)



Penjelasan hadis...



Lima belas perbuatan di atas adalah merupakan sumber dari perbuatan yang dapat menimbulkan bahaya di dalam masyarakat dan kejahatan merajalela. Atau dengan kata lain, berbagai macam dosa kemaksiatan dan kejahatan berkembang sumbernya dari yang lima belas itu.

Di bawah ini diuraikan secara singkat apa dan siapa hal-hal yang termasuk pada perbuatan yang lima belas itu.

1. jika tempat pengembala dijadikan sebagai Negara/tempat pemerintahan.

Yang dimaksud tempat pengembala pada hadis di atas adalah sebidang tanah, harta benda atau apa saja yang dimiliki oleh orang-orang miskin/rakyat jelata/rakyat yang buta hukum, diambil oleh penguasa/pejabat dengan dalih yang bermacam-macam, sementara si miskin tadi tidak dapat berbuat apa-apa, bahkan hidupnya menjadi terlunta-lunta, hilang semua pekerjaannya, hancur rumahnya. Ini jelas merupakan kedzoliman. Dan setiap kedzoliman selalu berakibat kutukan dan bencana dari Allah. (Al-Anfal ayat 25)

2. jika barang ttitipan telah dijadikan sebagai barang rampasan.

Barang titipan, adalah sesuatu yang dititipkan orang lain kepada seseorang, yang sewaktu-waktu akan diambil oleh yang empunya (pemilik). Sedangkan ghanimah adalah harta rampasan peperangan yang selanjutnya dibagi-bagi kepada yang berhak sesuai dengan ketentuannya. Maksudnya, setelah melalui proses, ghanimah menjadi milik pribadi.

Kehancuran disini, menurut hadis di atas, apabila manusia sudah tidak dapat membedakan mana milik pribadi dan mana yang bukan. Korupsi, manipulasi dsb adlah perbuatan yang menghancurkan negara dan masyarakat.

3. Zakat dijadikan sebagai barang jaminan

yang dimaksud dengan barang jaminan adalah peraturan negara yang berhubungan dengan harta benda, seperti pajak, iuran upeti, dsb. Yang kesemua itu harus dibayar kepada negara. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kewajiban harus ditunaikan. Sedangkan zakat bukan peraturan pemerintah, tetapi peraturan Allah, ditetapkan ke dalam rukun islam. Menyamakan hukum Allah dengan hukum yang dibuat manusia adalah suatu kedurhakaan, yaitu kesalahan yang fatal. Kedurhakaan disini adalah zakat tidak lagi dianggap sebagai rasa kasih sayang dari si kaya kepada si miskin, tetapi merupakan beban yang dapat diusahakan untuk bebas. Zakat tidak lagi beredar kepada yang mustahiq tetapi dikuasai oleh lembaga atau organisasi (ingat kisah tsa'labah)

4. Orang lelaki patuh kepada istrinya

Patuh disini, menuruti saja kemauan istri, walaupun sudah melanggar syari'at agama. Istri adlah wanita. Dan wanita umumnya tingkat emosinya lebih besar dari pertimbangan akal sehatnya. Kalau suami tidak pandai-pandai memimpin istrinya, maka dia akan hanyut oleh nafsu emosional istrinya itu. Berbagai bentuk pelanggaran dan penyelewengan yg dilakukan oleh seseorang, tidak sedikit disebabkan karena memperturutkan kemauan istrinya.

5. Anak durhaka kepada ibunya

Anak tidak lagi menghormati dan menghargai ibu yang sudah mengandung dan melahirkannya. Ketika dewasa dan sudah sukses mereka lupa dengan ibu yang membuat mereka sukses. Ibu-ibu mereka yang sudah tua pun dimasukkan ke panti jompo.

6. Berlaku baik dengan kawan-kawannya

Yang dimaksud kawan-kawan disini adalah pergaulan. Berapa banyak orang yang baik-baik menjadi rusak karena teman dan pergaulan. Nilai-nilai kehidupannya tidak lagi berdasar agama, tapi apa kata dan ketentuan kelompoknya. Tentu yang dimaksud teman/pergaulan/kelompok, adalah yang negatif. Namun betapapun, tidak dapat dibantah, teman atau kelompok yang baik membawa pengaruh yang besar. Seperti bergaul pada kegiatan remaja isla, dsb.

7. Anak benci dengan ayahnya

Dianggapnya ayahnya kuno, kolot, ortodox. Karena selalu menghubungkan perilaku hidup dengan agama. Karena nilai hidupnya tidak lagi berdasar agama, maka dia menjauhi ayahnya atau keluarganya, dan memutuskan silaturahmi dengan mereka, karena sudah tidak lagi dianggap sebagai kelompoknya. Itulah awal dari kehancuran rumah tangga, dan awal dari bncana yang merusak masyarakat

8. Di masjid selalu terjadi perselisihan

masjid tidak lagi dijadikan tempat yang teduh unuk mendekatkan diri kepada Allah, tapi sudah merupakan arena berebut pengaruh, dan perpecahan sesama muslim dan muslimah pun tidak dapat dihindarkan. Dari mulai masalah khilafiah sampai kepada masalah politik

9. Yang menjadi pemimpin masyarakat termasuk orang yang tercela

pemimpin adalah orang yang dapat menjadi suri tauladan kepada masyarakatnya. Orang yang adil dan bijaksana. Kesejahteraan suatu negara tergantung kepada pemimpinnya. Bila ada pemimpin yang mempunyai sifat tercela, pemimpin ini jelas bukan pemimpin yang diangkat secara musyawarah ummat.

10. Sebagian orang ditakuti karena dikhawatirkan kejahatannya

bencana dan kehancuran disini adalah manusia sudah tidak mempunyai ruh jihad. Sudah tidak sanggup lagi beramar ma'ruf nahi munkar. Karena takut membela yang hak, maka kenatilan merajalela. Takut menegakkan kebenaran, karena takut dituduh golongan ekstrim, maka kedzoliman yang tegak. Bencana dan cobaan pun datang silih berganti

11. Minum-minuman khamar telah menjadi kebiasaan

Minuman-minuman yang memabukkan sudah diperjualbelikan secara umum. Dan orang-orang sudah tidak lagi malu meminumnya. Jumlah minumannya pun semakin meningkat dan merknya semakin banyak. Jika orang-orang sudah tidak malu lagi minum khamar, maka, akan menimbulkan bencana

12. Banyak pria yang berpakaian sutera

Pakaian adalah unsur yang sangat mempengaruhi kejiwaan. Siapa orang itu dan apa jenisnya, sebenernya dapat ditentukan dari apa yang dipakainya. Oleh karena itu islam sangat menekankan dengan keras perbedaan pakaian da sikap laki-laki dengan perempuan. Tidak boleh sama. Sama disini berarti laknat. Karena, laki-laki bila hilang sikap kelelakiannya dan perempuan bila hilang sikap kewanitaannya akan merupakan bencana. Sang laki-laki tidak dapat lagi menjalankan jihad, dalam pengertian berani karena benar, karena dia si lelaki itu telah menjadi pesolek yang gemar memakai baju sutera, sebagai lambang pesona seksualnya.

13. Banyak biduanita mendapat pesanan dan alat-alat musik banyak diperjualbelikan

Biduanita adalah orang yang kerjanya sebagai penghibur. Alat musik adalah alat penghibur. Kedua hal itu banyak dijadikan orang sebagai pembawa ketenangan dan kegembiraan. Padahal ketenangan yang dihasilkannys adalah semu dan kebahagiaan yang rancu. Bahkan lebih banyak bersifat menipu. Sebab kalau sudah berlebihan dapat berakibat menjauhkan orang dari ingat kepada Allah. Nyanyian wanita yang mengasyikkan akan dapat menghanyutkan orang ke dalam bencana



14. Ummat di akhir zaman banyak mencela ummat generasi sebelumnya

Para sahabat, tabi'in, yaitu orang-orang salafussaleh, yaitu mereka yang menerima islam pada masa awal yang penuh dengan kesulitan. Mereka menerima islam dengan perjuangan, dan memperjuangkan islam dengan keikhlasan. Bagaimanapun kedudukan mereka tidak sama dengan generasi sesudahnya. Kemuliaan mereka dinyatakan sendiri oleh Allah swt dalam surah At-Taubah ayat 100.

Mencintai mereka adalah tanda iman, membenci mereka adalah tanda kesombongan. Orang yang sombong tidak pernah mempedulikan jasa orang lain.

15. Rihul Ahmar

Udara yang panas merupakan bencana langsung menimpa manusia, mematikan tumbuhan, mengancam kehidupan dan ini jelas merupakan bala yaitu musibah yang menimbulkan berbagai penyakit, karena kekeringan, dan akibatnya sukar diperoleh air.





Serial khutbah jum'at jan 90

Goresan

Tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.

Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.

"Buk....!" Aah..., ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.

"Cittt...." ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

"Apa yang telah kau lakukan? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku! Lihat goresan itu", teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. "Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos di bengkel untuk memperbaikinya."Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.

Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf. "Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa." Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. "Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti...."

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.

"Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan.." Kini, ia mulai terisak.

Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. "Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya."

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.

Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya. Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. "Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak."

Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Dtelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores itu oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.

Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya. Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: "Janganlah melaju terlalu cepat dalam hidupmu, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu."

--oo0oo--

Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada waktu buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Allah, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.

Teman, kadang memang, ada yang akan "melemparkan batu" buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak.

Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita, agar kita tersadar dan berhenti sejenak?

Harapan Itu Masih Ada Sobat

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?" Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang.

Hingga pada saat pagi menjelang. "Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. "Cittt...cericirit...cittt," suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu... dua... tiga... dan empat anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka,akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

***

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memangselalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah ditebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

Asiknya Mengemban Dakwah

1. ......
Jadi pengemban dakwah? Hmm� di mata remaja, sepertinya �jabatan' ini kalah menarik dibanding kontes menjadi bintang yang kian menjamur. Meski kagak pake audisi atau ekstradisi yang bikin sensasi, tetep aja remaja yang terjun ke dunia dakwah bisa dihitung pake jari. Padahal untuk jadi pengemban dakwah, nggak kudu bisa nyanyi, nari, atau akting. Cukup bermodalkan keimanan, ilmu, dan kemauan. Sayangnya, justru tiga faktor itu yang lumayan langka ditemuin pada mayoritas remaja yang kian terhipnotis gaya hidup hedonis. Gaswat!
Kalo kita sempet nanya kenapa seseorang nggak atau belum mau ikut berdakwah, pasti mereka segera ngeluarin kunci gembok buat bongkar gudang alasannya. Soalnya mereka juga ngerti kalo dakwah itu wajib. Cuma masalahnya, banyak orang yang ngerasa belon siap ngadepin risiko dakwah. Emang apa sih risiko dakwah?
Itu lho, gosipnya ada anak yang berselisih ama bokapnya karena ngritik sistem demokrasi. Dijauhin temen lantaran cerewet ngingetin untuk nutup aurat, nggak pacaran, atau antitawuran. Tereliminasi dari kantor saat bawa-bawa aturan Islam ke alam kapitalis di dunia kerja. Diancam skorsing dari sekolah ketika ngotot pengen pake seragam yang nyar'i. Dicemberutin tetangga coz nggak ikut berpartisipasi dalam pilpres alias �memilih untuk tidak memilih� (bahasa kerennya golput). Atau malah berhadapan dengan aparat keamanan karena dituding terlibat aksi pemboman. Waduh!
Kebayang kan, kalo berita duka seputar lika-liku aktivis dakwah kayak di atas lebih populer dibanding ridho Allah yang menyertai kegiatan dakwah. Udah pasti bayangan rasa takut bin cemas selalu menghantui pas lagi mujur ada kesempatan untuk berdakwah. Jangankan jadi pengemban dakwah, sekadar menyuarakan Islam aja mungkin malu. Repot juga kalo kayak gini.
Disayang Allah, lho�
Bener sobat. Kita sekadar ngingetin aja, kalo jadi pengemban dakwah udah pasti disayang Allah. Allah swt. berfirman:
�Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah?� (QS Fushhilat [41]: 33)
Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum buat siapa aja yang menyeru manusia ke jalan Allah (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi ). Mereka, menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya. Bener kan?
Selain itu, pujian bagi para pengemban dakwah senantiasa disampaikan Rasulullah untuk mengobarkan semangat para shahabat dan umatnya. Seperti dituturkan Abu Hurairah: �Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.� ( HR Muslim )
Nggak heran dong kalo para shahabat Rasulullah begitu gigih bin pantang menyerah dalam berdakwah. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga bahkan nyawa pun rela mereka korbankan untuk dapetin pahala Allah yang melimpah dalam aktivitas dakwah. Kalo nggak begitu, mana mungkin nenek moyang kita dan juga kita mengenal Islam dan menjadi penganutnya. Bener nggak seh?
Dan kita pun bisa seperti para shahabat. Walau nggak hidup di zaman Rasulullah, tapi warisan beliau yang berupa al-Quran dan as-Sunnah tetep eksis sampe sekarang dan terjaga kemurniannya. Tinggal kemauan kita aja untuk serius mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan warisan itu. Mau dong? Heu'euh!
Nilai plus lainnya

Sabar dan Mengeluh

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil keksaihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

KISAH LIMA PERKARA ANEH

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahwa diantara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada yang menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat.
Engkau dikehendaki berbuat,
pertama; apa yang negkau lihat (hadapi) maka makanlah,
kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya." Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan." Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’. Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disadari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam. Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku." Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku." Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini." Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukittetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua.
Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah." Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa saja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahwa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu." Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

Karakteristik Pejuang Dakwah ada delapan

1. Iman

Iman merupakan aqidah yang tetap menguasai intuisi dan fikrah yang mantap, yang dapat mengendalikan aktivitas dan cita-cita serta mengarahkan perilaku manusia kepada tujuan hidupnya.

Iman kepada Allah merupakan yang paling utama. Ia tersurat secara jelas dalam lafadz “Asyhadu allaa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammad arrasuulullah.”

Pejuang dakwah yang merefleksikan makna Syahadatain ini dan menyertakannya dalam setiap langkah dan geraknya akan selalu yakin dan percaya akan datangnya kemenangan.

2. I’tisham

Musuh-musuh Allah ada di mana-mana. I’tisham termasuk salah satu sifat yang selalu dijadikan sasaran para musuh-musuh La’natullah ini. Mereka berusaha merusaknya dari jiwa kita. Sebagai kaum Muslimin ada yang jiwanya telah tertipu musuh-musuh tersebut. Padahal, hakikat i’tisham ialah berpegang teguh kepada al-Haq.

Dalam hal ini, Allah berfirman:

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada Dien yang telah diwahyukan Allah kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang benar.” (QS Az Zukhruf: 43)

I’tisham juga merupakan kebanggaan terhadap yang haq dan gandrung kepada kebenaran ini melebihi kehormatan dan kedudukan dirinya sendiri.

Ungkapan paling indah untuk menggambarkan kebanggaan ini tercermin dari kata-kata Rasulullah ketika berucap: “Demi Allah, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan dakwah ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya.”

Sebagai Pejuang Dakwah, sudah sepantasnya bila kita memiliki karakter ini. Bangga akan kebenaran. Bangga akan dakwah ilallah.

3. Shidiq

Seorang Pejuang Dakwah adalah manusia yang jujur dan mengiltizami kejujuran dalam segala hal. Perasaan dan nuraninya senantiasa jujur. Ia mampu menangkap makna Haq dan menerapkannya dalam setiap langkah hidupnya. Tidak ada yang dia dustakan. tidak ada yang dia sembunyikan.

Shidiq merupakan pertanda kejernihan hati nurani dan ketinggian cita-cita. Dakwah akan bisa mudah tersampaikan apabila diusung oleh Pejuang yang setia pada kejujuran.

4. Quwwah

Setiap Pejuang, apalagi Pejuang Dakwah hendaknya memiliki sifat ini. Dengan quwwah (kekuatan), dakwahnya dapat terlindungi. Dan bersama kekuatan, ia bergerak di jalan al-Haq dan al-Khair. Dengan kekuatan pula, seorang Pejuang akan dapat mempertahankan diri dari serangan musuh, atau bahkan malah membuat gentar musuh-musuhnya.

Seorang Pejuang Dakwah tidak akan mengenal kata lemah dalam kamus perjuangannya. Setiap cobaan dan ujian justru akan semakin memperkokoh tekad dan membina azzam. Dan inilah Pejuang Dakwah yang sejati.

5. Taddhiyah (pengorbanan)

Pejuang Dakwah menyadari bahwa perjalanan yang ditempuhnya panjang, tujuan yang akan dicapainya jauh, dan banyak rintangan yang harus diatasi. Oleh karenanya, Pejuang Dakwah harus memiliki jiwa besar dan semangat rela berkorban, sehingga mampu menghadapi berbagai rintangan tersebut.

Perjuangan dakwahtidak ditaburi bunga, harta, apalagi kesenangan. Justru jalannya penuh onak duri dan kerikil-kerikil tajam.

Rasulullah SAW telah mengisyaratkan:

“Surga itu diiringi dengan makarih (sesuatu yang tidak disukai) dan neraka itu diiringi dengan syahwat.”

Pejuang Dakwah tidak akan takut mati ketika membela aqidah. Malahan, itulah cita-citanya: mati di jalan jihad. Ia tidak takut pengasingan maupun penjara. Ia tidak takut dihina, dicaci, dimaki.

Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Bagiku penjara merupakan saat menyepi, pembuangan merupakan rekreasi, dan kematian adalah syahadah.”

Subhanallah! Indah sekali beliau mengungkapkan. Sudahkah kita sebagai Pejuang Dakwah memiliki pemikiran seperti itu?

Begitu pula Hasan Al-Banna pernah mengatakan:

“Mati itu mempunyai tiga kedudukan, yakni Mautu al-Hayat, Mautu al-Fana, dan Mautu al-Baqa’. Mautu al-Hayat ialah orang yang hidupnya seperti bangkai yang adanya seperti tiada. Ia hidup tanpa pemikiran maupun aqidah. Adapun Mautu al-Fana ialah orang yang matinya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Ia mati tanpa meninggalkan sesuatu yang berarti. Ia musnah dengan kemusnahannya dan hilang dalam ketiadaannya. Sedang yang terakhir adalah Mautu al-Baqa’. Ini kematiannya Pejuang Aqidah. Kematiannya merupakan pembangkit semangat generasi dan jasanya tetap dikenang dalam sejarah. Sesungguhnya ia manusia al-Haq. Karena selama al-Haq masih hidup, maka ia tidak akan mati dan tidak akan punah. Sebab ia adalah da’i ilallah. Dan adalah Allah Maha Kekal.”

6. Sabar dan Tsabat

Sabar adalah menahan diri atas sesuatu yang disukai maupun yang tidak disukai. Ia merupakan kemerdekaan jiwa dari segala macam pengaruh syahwat. Dengan kesabaran, seseorang akan mampu mengatasi segala rintangan dan penderitaan.

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga.” (QS Ali Imran: 200)

Seorang Pejuang Dakwah haruslah memiliki kesabaran dan ketegaran (tsabat). Kesejatian seorang Mujahid terlihat pada saat terjadinya krisis dna goncangan. Ia tidak merasa lemah maupun sedih. Jiwanya senantiasa tegar dan pantang menyerah. Seorang mukmin sejati juga akan selalu tersenyum, baik dalam senang, susah, menang, maupun kalah atau terjadi goncangan. Oleh karenanya, dakwah yang dibawa bisa meresap ke dalam hati ummat. Ia berdakwah melalui kesabaran. Ia berdakwah melalui senyuman. Ia berdakwah melalui teladan.

Hasan Al-Banna mengatakan:

“Antara kemenangan dan kekalahan ada sabar sesaat.”

7. Ikhlas

Ikhlas menunjukkan niat semata-mata karena Allah Ta’ala dan membersihkannya dari pandangan makhluk. Ikhlas berarti sikap melupakan pandangan manusia dengan cara hanya memandang kepada Sang Khaliq. Ia merupakan makna kemerdekaan, ketinggian, dan kebersihan dari nafsu dan ambisi yang mengotori kehidupan.

Karena itu, setiap Prajurit Dakwah harus senantiasa beramal ikhlas karena Allah semata. Pejuang Dakwah ialah prajurit yang tidak ambisius. Cita-citanya hanya satu: ingin mencari ridho Allah semata. Tidak ada keinginan dipuji maupun dihargai secara materi.

8. Tajarrud

Dua mata pedang tidak mungkin berada dalam satu sarung. Demikian pula, dua hati tidak mungkin berada dalam satu jiwa. Seorang Pejuang Dakwah harus memurnikan aqidahnya dari segala macam kesyirikan. Seorang Pejuang Aqidah ini akan menjadikan seluruh hatinya sebagai khazanah dakwahnya. Bersama aqidah ia hidup. Dan seluruh qalbunya akan senantiasa terisi oleh aqidah. Tidak ada yang lain, hanya Allah.

Demikianlah kedelapan karakter Pejuang Dakwah yang didambakan ummat. Semoga kita bisa memiliki karakter itu. Dan semoga kita bisa tetap bertahan dalam keistiqomahan dan azzam dakwah di jalan Allah.

Metal Slug

Obat Hati....dengarkanlah

Buku tamu

<
ShoutMix chat widget
>